Minggu, 24 Maret 2019

 Sunah Dan Doa Waktu Hari Raya

Sunah Dan Doa Waktu Hari Raya


Hari Raya puncak dari Ibadah Puasa Ramadhan, pelaksanaan Shalat ‘Id’ (shalat sunah Hari  Raya) Idul Fitri atau yang sering kita sebut Lebaran adalah sunah muakkad (sangat diajurkan/penting). Maka dari itu harus disambut dengan penuh suka cita. Untuk itu kita perlu memahami tuntunan shalatnya. Saat terakhir pelaksanaan ibadah puasa yang kita jalankan, kita disunahkan memperbanyak takbir mulai terbenamnya matahari sampai imam naik mimbar untuk pelaksanaan shalaat Idul Fitri pagi harinya. Shalat sunah yang kita laksanakan pada Hari Raya  tidak didahului azan dan iqomah.


Dalam sebuah hadist dari Jabir bin Samurah Ra, ia berkata, “Aku pernah shalat dua hari raya bersama Rasulullah SAW lebih dari sekali dua kali, tanpa dikumandangkan azan dan tanpa iqamah,” (HR Muslim dan Tirmizi). Mari kita sempurnakan hari yang fitri itu dengan berbagai ibadah yang disunahkan :

1.    MANDI DAN BERSIH-BERSIH
Kita disunahkan mandi sebelum berangkat shalat Idul Fitri. Waktunya mulai separuh malam sampai hendak mengerjakan shalat. Buar terasa segar saat pelaksaan shalat, usai shalat subuh  segera mandi. Setelah mandi, mari kita sempatkan untuk memotong kuku, memilih pakaia yang terbaik yang kita miliki serta memakai wangi-wangian. Jangan lupa membawa uang untuk infak.

2.    MAKAN DULU
Setelah semua siap, maka ajaklah sanak keluarga untuk makan dulu seadanya, tidak perlu bermewah-mewahan.  Sebab yang disunahkan sebelum berangkat shalat Idul Fitri adalah makan. Setelah itu, segera berangkat menuju masjid seraya mengumandangkan takbir hari raya.

3.    PILIH JALAN BEDA
Baginda Nabi selalu memilih jalan yang berbeda saat berangkat dan pulangnya. Jabir bin Abdillah Ra berkata, “Nabi SAW pada hari raya bisa mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan ketika kembali”. (HR. Bukhari).

4.    BERTAKBIR
Sesampainya di masjid, segera menata shaf (barisan) dan duduk dengan tenang  dan menunggu pelaksanaan salat ‘Id’. Selama menunggu kita diterus bertakbir Hari Raya.

5.    MENATA NIAT
Begitu tiba pelaksanaan  untuk shalat dimulai, segeralah berdiri dan menata barisan dan niat shalat Idul Fitri. Bagi Anda yang mengawali dengan melafalkan niat, niatnya :

“Ushalli sunnatal Li’iidil fitrhi rak’ataini makmuman lillahi ta’alaa”
(Saya niat shalat sunah hari raya Idul Fitri dua rakaaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala).”

6.    MULAI SHALAT
Setelah takbiratul ihram, segera baca doa iftitah. Setelah itu imam akan takbir tujuh kali. Ikuti takbir dengan suara keras seraya membaca tasbih di antara takbir satu dengan lainnya. Kalimat tasbihnya,

“Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha ilallahu wallahu akbar”
(Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar).

7.    MENGIKUTI IMAM
Usai takbir ketujuh, imam akan membaca Al Fatihah dan membaca ayat Alquran yang lain. Dengarkan dengan khusyuk. Setelah itu, semua gerakan imam, rukuk sampai sujud rakaat pertama.

8.    RAKAAT KEDUA
Usai rakaat pertama, imam akan memulai rakaat kedua dengan bertakbir lima kali. Ikutilah takbir tersebut dengan suara keras seraya membaca tasbih disela-sela takbir (bacaan tasbih sama dengan rakaat pertama). Setelah itu, ikutilah semua gerakan imam dengan khusyuk sampai salam sebagai tanda shalat Idul Fitri sudah selesai.

9.    MENYIMAK KHUTBAH
Usai salam, jangan langsung pulang. Sebab, akan ada khutbah Hari Raya. Usai khatib berkhutbah, maka usailah semua rangkaian shalat hari raya Idul Fitri. Setelah itu, segeralah bersalam-salaman dengan jamaah lain. Jangan lupa, kalau pulang, pilihlah jalan yang berbeda dengan jalan yang dilalui ketika berangkat.



Sumber : Majalah Hikmah. Mei 2016
Etika Berbusana Bagi Seorang Pendidik

Etika Berbusana Bagi Seorang Pendidik


Salah satu usaha yang dilakukan agar anak didik betah berada dan belajar disekolah dan selalu tertarik terhadap setiap ucapan, serta sikap yang dilakukan seorang guru. Maka seorang guru hendaklah memiliki kepribadian yang kuat. Untuk ini pengetahuan tentang berbusana merupakan salah satu faktor yang juga ikut menentukan dalam prose belajar mengajar. Pengakuan terhadap wibawa guru tidak usah diminta, tetapi akan muncul dengan sendirinya dari anak didik, asal guru bisa menempatkan salah satu faktor penyebab kewibawaan guru yakni bagaimana guru berbusana yang baik. Guru diharapkan menyadari benar-benar, mengapa guru dituntut berbusana pantas sesuai dengan martabat dan perannya, tidak sembarngan menurut selera pribadi.

Baca Juga : Makna Logo NU Care - Lazisnu

KEGUNAAN BERBUSANA
Orang yang tidak mengerti fungsi busana, sering mengenakan busana yang tidak memperhatikan pantas atau tidak melanggar norma kesusilaan atau tidak, melanggar kode etik guru atau tiak, indah atau acak-acakan dsb.
Sehubungan dengan itu ada tiga fungsi atau kegunaan busana yang perlu difahami yakni :

1.   Untuk melindungi badan dari pengaruh luar, seperti : hawa dingin atau panas, sinar matahari, hujan, angin, benda tajam dan masih banyak lagi.
2.   Untuk memenuhi sarat peradaban dan kesusilaan. Peniruan cara berbusana serta jenisnya yang dikarenakan, disesuaikan norma susila yang berlaku dalam lingkungan masyarakat sesorang. Kita berbusana harus sesuai dengan kepribadian. Pribadi seorang guru lain dengan pribadi seorang pedagang, pegawai kantor ataupun pribadi artis.
3.   Untuk memenuhi rasa keindahan. Mengapa demikian ? Sebab busana dapat membuat penampilan diri lebih menarik. Busana dapat dibuat sedemikian rupa sehingga kekurangan-kekurangan pada bentuk badan seseorang dapat ditutupi. Seseorang dengan busana yang serasi dalam kombinasi warna, hiasan yang dipakai serta model yang sesuai akan menambah keindahan dan daya tarik.

PENGARUH BUSANA

Busana dapat mempengaruhi jasmani dan rokhani seseorang.
1.    Pengaruh terhadap jasmani, misalnya :
Pakaian yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti pakaian yang terlalu sempit akan menghambat peredaran darah dan akan mengubah bentuk badan serta menghambat pernafasan. Pakaian yang kotor dan jarang dicuci, akan berbau tidak enak dan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit kulit.

2.  Pengaruh terhadap rohani, misalnya :
Busana yang tidak enak dipakai akan memberi rasa tidak senang pada sipemakai. Akan merasa serba canggung. Timbul rasa rendah diri. Malu bergaul dsb. Orang yang berbusana rapi, harmonis,menarik perhatian orang dan biasanya mendapat penghormatan dan pelayanan yang baik. Hal ini dapat menimbulkan rasa senang, percaya diri sendiri, tidak ikut takut bergaul dengan siapapun juga.

JENIS-JENIS BUSANA
Jenis busana dapat dibedakan dalam dua golongan besar, yaitu :
Busana luar : Semua busana yang dapat dipakai diatas busana dalam dan dapat dipakai keluar rumah dan menerima tamu.

Jenis Busana Luar :
a.    Pakaian Kerja : Fungsinya untuk berkerja, jadi akan cepat kotor. Maka perlu dipilih bahan yang kuat, banyak menghisap air, tahan cuci dan seterika, tahan luntur, mudah pemeliharaannya. Model praktis, tidak mengganggu pekerjaan dan warna tidak menyolok.
b.    Pakaian bebepergian, termasuk di dalamnya :
  • Pakaian Pesta : Memilih pakaian pesta harus disesuaikan dengan pestaya pesta resmi, setengah resmi, tidak resmi. Dalam pesta resmi sebaiknya wanita mengenakan kain kebaya, untuk pria mengenakan celana panjang, kemeja, jas dan dasi.
  • Pakaian Rekreasi : Model pakaian sesuai dengan gerakan yang bebas dan warna meriah.
  • Pakaian Upacara Kedukaan : dipakai suasana berkabung, warna putih, biru tua, kelabu.
c.    Pakaian olahraga : Dipakai dalam gerakan yang banyak, maka harus kuat, mudah dibersihkan, menghisap keringat. Modelnya praktis, tidak mengganngu, tidak menyolok.
d.    Pakaian adat : Tergantung dari kebiasan tiap daerah.

PRIBADI YANG MENARIK
Tiap manusia mempunyai cirri-ciri khasnya sendiri yang merupakan daya tarik bagi manusia lainnya. Kalau dilihat dari bentuk luarnya, bagi wanita wajah cantik dan bentuk-bentuk badan yang ideal merupakan daya tarik yang penting. Sedangkan bagi pria tubuh yang tegap, kuat, ganteng, ramah tamah, merupakan impian bagi wanita. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa daya tarik seseorang tidak hanya terletak pada bentuk luarnya, penampilan diri yang sebaik-baiknya dalam wujud : badan sehat, bersih, rapi, pakaian serasi, tingkah laku sopan, jujur, dapat menghargai orang lain merupakan daya tarik yang lebih menentukan. Setiap orang dapat berusaha untuk memiliki pribadi yang menarik.

Kepribadian seseorang dapat dilihat dari beberapa segi, diantaranya :
1.   Sikap Mental dan Fisik
2.   Cara Berbusana dan Merias Diri

Sikap Mental Fisik. Sikap Mental : Kepribadian seseorang terlihat pada sikap dan seluruh tingkah lakunya yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan masyarakat sekelilingnya. Untuk dapat diterima lingkungan hidupnya, seseorang harus menyesuaikan dirinya dengan tata cara yang berlaku dalam lingkungan tsb. Dalam usaha menyesuaikan diri ini ia dapat berhasil dengan baik, jika ia mememang sungguh-sungguh mau berusaha. Sebaliknya akan mengalami kegagalan kalau ia bersikap acuh tak acuh pada lingkungannya. Untuk menentukan sikap yang tepat, seseorang harus melatih diri dalam pergaulan. Kepribadianya akan menarik jika ia luwe, jujur, penuh tenggang jawab. 

Beberapa cara melatih diri dalam pergaulan agar memiliki sikap mental yang tepat : yang utama adalah kesediaan untuk menghormati dan memahami pendapat orang lain. Tidak ragu-ragu mengakui kesalahan sendiri, tidak curang, membiasakan diri melihat hal-hal yang baik. Selanjutnya dapat disempurnakan dengan nada suara, tutur kata dan tegur sapa yang menarik. Orang yang berbicara keras dan membentak-bentak akan dijauhi orang lain.

Sikap Fisik : Sikap sehari-hari waktu duduk, berdiri, atau berjalan perlu diperhatikan. Sikap duduk : dipengaruhi tinggi rendahnya kursi. Kursi yang terlalu rendah menyebabkan letak lutut lebih tinggi kaki akan tergantung. Jadi sikap duduk yang baik memerlukan kursi yang sesuai dengan tinggi badan dan panjang kaki. Meletakkan tulang punggung tetap tegak tetapi tidak kaku. Tulang kedudukan diletakkan pada tempat duduk yang seenak mungkin. Lutut dirapatkan. Lengan diletakkan dipangkuan sehingga tercapai keseimbangan tubuh. Kepala tegak menghadap tujuan.

Sikap Berdiri : tegak atau dalam keadaan istirahat. Syarati-syarat yang harus diingat ialah usahakan beridiri seluas mungkin dengan telapak kaki rata pada lantai. Berat badan terletak seimbang pada kedua kaki. Busungkan dada, kempiskan perut. Lemaskan bahu, lengan disisi. Sikap Berjalan : dipengaruhi oleh kecepatan langkah dan barang yang dibawa. Sikap berjalan hendaknya lurus, badan tegak tetapi tetap lembut. Telapak kaki lurus kemuka.lantai yang dipijak kaki kanan maupun kiri merupakan satu garis. Tumit menyentuh tanah dahulu setiap kali akan mengambil langkah. Langkah tegap, tenang, berirama. Jika membawa beban, usahakan seimbang antara tangan kanan dan kiri. Jika berjalan cepat jangan mengambil langkah panjang sebab akan terlihat seperti menganguk-angguk.

Cara Berbusana dan Merias Diri
Sikap Fisik : Sikap sehari-hari waktu duduk, berdiri, atau berjalan perlu diperhatikan. Sikap duduk : dipengaruhi tinggi rendahnya kursi. Kursi yang terlalu rendah menyebabkan letak lutut lebih tinggi kaki akan tergantung. Jadi sikap duduk yang baik memerlukan kursi yang sesuai dengan tinggi badan dan panjang kaki. Meletakkan tulang punggung tetap tegak tetapi tidak kaku. Tulang kedudukan diletakkan pada tempat duduk yang seenak mungkin. Lutut dirapatkan. Lengan diletakkan dipangkuan sehingga tercapai keseimbangan tubuh. Kepala tegak menghadap tujuan.

Sikap Berdiri : tegak atau dalam keadaan istirahat. Syarati-syarat yang harus diingat ialah usahakan beridiri seluas mungkin dengan telapak kaki rata pada lantai. Berat badan terletak seimbang pada kedua kaki. Busungkan dada, kempiskan perut. Lemaskan bahu, lengan disisi. Sikap Berjalan : dipengaruhi oleh kecepatan langkah dan barang yang dibawa. Sikap berjalan hendaknya lurus, badan tegak tetapi tetap lembut. Telapak kaki lurus kemuka.lantai yang dipijak kaki kanan maupun kiri merupakan satu garis. Tumit menyentuh tanah dahulu setiap kali akan mengambil langkah. Langkah tegap, tenang, berirama. Jika membawa beban, usahakan seimbang antara tangan kanan dan kiri. Jika berjalan cepat jangan mengambil langkah panjang sebab akan terlihat seperti menganguk-angguk.
Untuk dapat mengetahui cara berbusana yang baik sebagai guru, perlu ditinjau dari beberapa segi :
1.    Dari segi jenis berbusana yang harus dikenakan busana gru termasuk pakaian kerja. Jadi menurut teori harus dipilih bahan yang kuat, banyak menghisap air, tahan cuci, tahan luntur, mudah pemeliharaannya. Model praktis tidak mengganggu pekerjaan. Warna tidak mencolok.

2.    Ditinjau dari segi tempat bekerja : tempat bekerja seorang guru adalah di sekolah-sekolah. Maka harus di utamakan prinsip “Kesederhanaan”, karena kesederhanaan adalah pangkal kebenaran. Maka dalam berbusana guru sebagaia model/contoh bagi siswanya harus menunjukkan kesederhanaan pula. Sebagai seorang guru harus berbusanan dengan model yang sederhana, tetapi cukup indah dan menarik, mudah bregerak, tangkas tetapi rapi.

3.    Ditinjau dari segi umur : guru adalah seorang pendidik. Dan jika pendidikan adalah usaha kaum dewasa membantu kaum muda mengembangkan segala segi potensinya semaksimal mungkin, maka seorang pendidik dituntut harus seorang yang sudah dewasa. Hubungannya dengan berbusana seorang pendidik atau guru harus mengenakan busana yang cocok untuk orang dewasa.

Jangan mengenakan busana model anak-anak atau remaja. Untuk dapat membedakan busana anak, remaja dan dewasa memang perlu banyak melihat model-model busana pada gambar di majalah-majalah, buku mode, etalase busana. Selanjutnya untuk dapat memantas diri, berbusana termasuk merias diri sesuai adat istiadat atau kebiasaan berdasarkan norma-norma yang baik, perlu mempelajari teori atau aturan-aturannya.

Berbusanan baik tidak berdasarkan naluri pribadi tetapi perlu mempelajari norma atau aturan-aturan yang baik secara umum. Untuk memilih busana yang pantas sebagai seorang guru memang tidak mudah. Untung dengan adanya busana seragam, seorang guru tidak perlu lagi menghadapi permasalahan dalam berbusana. Namun dalam menetapkan bentuk dan modal seragam busana tidak boleh sembarangan. Harus didasarkan pada aturan-aturan busana yang tepat. Maka bagi siapa saja yang kurang memahami tentang teori busana, jika menginginkan busana seragam seyogyanya konsultasi dengan seorang yang memang menguasai dan memahami seluk beluk perbusanaan.


Sumber : Majalah Krida. N. Fatchiyadi

Sabtu, 23 Maret 2019

Makna Logo NU Care - Lazisnu

Makna Logo NU Care - Lazisnu


Logo NU CARE-LAZISNU adalah sebagai berikut:

1. Logo NU CARE-LAZISNU berintikan logo Nahdlatul Ulama yang dirangkul oleh simbol dua tangan Muzakki dan Mustahiq berbentuk setengah lingkaran berhadap-hadapan sehingga membentuk curva oval, memberikan pengertian sinergi antara Muzakki dan Mustahiq.

2. Logo ini melambangkan misi NU CARE-LAZISNU sebagai wahana pelayanan umat dalam upaya mendorong kesadaran masyarakat dalam pengumpulan dan pengelolaan dana zakat dan mendistribusikannya kepada para mustahiq sesuai dengan syariat Islam.

3. Logo NU CARE-LAZISNU yang berwarna hijau tua dan hijau muda, terdiri dari:
  • Logo Nahdlatul Ulama terletak di tengah-tengah.
  • Simbol dua tangan Muzakki dan Mustahiq berbentuk setengah lingkaran berhadap hadapan sehingga membentuk curva oval.
  • Curva oval berwarna hijau tua di sebelah kiri merangkul logo Nahdlatul Ulama melambangkan Muzakki.
  • Curva oval berwarna hijau muda di sebelah kanan merangkul logo Nahdlatul Ulama melambangkan Mustahiq.
  • Tulisan NU CARE-LAZISNU dengan menggunakan huruf kapital font Cambria tegak dan terpisah, tulisan “NU CARE” berwarna hijau tua, sedangkan tulisan “-LAZISNU” berwarna hijau tua.



Sumber : Pedoman Organisasi NU Care - Lazisnu Masa Khidmat 2015-2020

Kamis, 21 Maret 2019

Rencana Kerja LAZIS Nahdlatul Ulama

Rencana Kerja LAZIS Nahdlatul Ulama


Pendahuluan Undang-undang Republik Indonesia No. 38 Tahun 1999, tentang pengelolaan zakat, infak dan sedekah telah berlaku dan diikuti dengan keputusan Menteri Agama RI No. 581, tentang pelaksanaan Penglolaan zakat, infak dan sedekah, maka bangsa Indonesia, khususnya kaum Musllimin punya kewajiban pengelolaan zakat, infak dan sedekah ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang zakat, infak dan sedekah.

Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisaasi keagamaan yang besar di Indonesia, sudah sejak lama menyelenggarakan pemungutan zakat, infak dan sedekah yang dimulai dari tingkat Ranting


TATA KERJA LAZIS NAHDLATUL ULAMA

BAB I
Nama, Kedudukan, Tugas dan Fungsi

Pasal 1
Yang mengelola zakat, infak dan sedekah ini bernama Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah ( LAZIS ) Nahdlatul Ulama

Pasal 2
LAZIS Nahdlatul Ulama adalah Pembantu Unit Pengumpul Zakat Kecamatan dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pemalang dan dibawah pembinaan dan bimbingan Unit Pengumpul Zakat Kecamatan dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pemalang.

Pasal 3
LAZIS Nahdlatul Ulama mempunyai tugas pokok mengelola dan melayani masyarakat yang menunaikan ibadah zakat, infak dan sedekah.

Pasal 4
Di dalam melaksanakan tugas pokok tersebut LAZIS Nahdlatul Ulama mempunyai fungsi :
1.   Menyelenggarakan pelayanan dan pengumpulan zakat, inafk dan sedekah bagi masyarakat.
2.  Menyalurkan hasil pengumpulan zakat, infak dan sedekah kepada masyarakat dan lembaga kemasyarakatan yang telah ditentukan oleh Unit Pengumpul Zakat Kecamatan dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pemalang.
3.    Menyimpan harta zakat, infak dan sedekah yang belum disalurkan dan menjamin keamanannya.
4.    Melaporkan hasil kerja kepada Pengurus MWC NU Ampelgading.

BAB II
Pengertian Harta, Zakat, Infak dan Sedekah

Pasal 5
Harta kekayaan adalah tumpukan sisa sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh perorangan atau lembaga perdagangan/badan hukum lainnya pada batas-batas tertentu yang belum dikonsumsikan atau dialihkan kepada pihak lain.

Pasal 6
Zakat adalah bagian tertentu dari harta tersebut pada pasal 5 yang wajib dikeluarkan dan diberikan kepada pihak-pihak lain yang telah ditentukan menurut ajaran Islam (Mustahiq). Dan apabila harta itu tidak dikeluarkan, pemilikinya menanggung dosa.

Pasal 7
Sedekah adalah mengeluarkan sebagian harta kekayaan milik peroragan atau lembaga/badan hukum diberikan kepada pihak lain yang telah ditentukan. Sedekah ada dua macam. Sedekah wajib (zakat dan infak) dan sedekah Sunanah.

Pasal 8
Infak adalah mengeluarkan sebagian dari harta kekayaan perorangan atau lembaga/badan hukum yang tidak ditentukan kadar jumlah dan batas kepemilikannya.

BAB III
Jenis Zakat dan Nishab

Pasal 9
Zakat itu ada dua jenis, yaitu zakat harta kekayaan (zakat al-maal) dan zakat fitri (zakat jiwa/diri).

Pasal 10
Zakat fitri adalah zakat bahan makanan baku sebesar 2,5 kg setara dengan 3,5 liter beras atau makanan lainnya yang didapat diganti dengan nilai harga uang yang dapat diganti dengan nilai harga uang yang wajib dikeluarkan selama bulan Ramadhan sampai batas waktu sebelum Shalat Idul Fitri bagi kaum musliminn berstatus merdeka, maupun budak, dari anak-anak sampai dewasa, yang diberikan kepada fakir miskin.

Pasal 11
Zakat harta itu terdiri dari harta Al-Nukuz (tambang), zakat Al-Tijarah (Perdagangan), zakat Al-An’am (Ternak), zakat Al-Tijarah (Pertanian) dan zakat Al-Rikaz (Barang tambang temuan).

BAB IV
Sasaran dan Manfaatnya

Pasal 17
Yang menjadi sasaran gerakan zakat, infak dan sedekah LAZIS Nahdalatul Ulama ini  adalah anggota dan simpatisan Nahdlatul Ulama serta umat Islam umumnya yang masih memerlukan pelayanan di dalam menunaikan ibadahnya.

Pasal 18
Bahwa untuk melaksanaan pelayanan zakat, infak dan sedekah tersebut, LAZISNU selalu berusaha memberikan bimbingan dan pembinaan kepada anggota dan simpatisan Nahdlatul Ulama serta umat Islam umumnya agar bergairah melaksanakan ibadah zakat, infak dan sedekah.

Pasal 19
Manfaat zakat, infak dan sedekah pada dasarya adalah sangat luas, dan dapat diringkas menjadi dua manfaat, yaitu manfaat untuk jangka pendek dan manfaat untuk jangka panjang.

Pasal 20
Manfaat zakat, infak dan sedekah jangka pendek yaitu manfaat yang bersifat konsumtif diantaranya adalah :
1.    Menyantuni kebutuhan / makan sehari kepada fakir dan miskin, seperti pemanfaatan zakat fitrah.
2.    Menyantuni beasiswa kepada siswa yang berprestasi,yang orang tua/walinya tidak mampu membiayainya.
3.    Menyantuni musafir yang kehabisan bekal dan orang-orang yang terkena kecelakaan atau musibah.

Pasal 21
Manfaat zakat, infak dan sedekah jangka panjang yaitu manfaat yang bersifat produktif fi sabilillah yang meliputi pembangunan bidang ekonomi, sosial budaya dan kegiatan keagamaan.

Pasal 22
Manfaat zakat, infak dan sedekah dalam bidang sosail ekonomi meliputi :
1.    Penyediaan bantuan modal usaha dan latihan ketrampilan tenaga kerja, meningkatkan sumber daya manusia dan lain-lain.
2.    Penyediaan dan bantuan pendirian usaha keuangan, ketrampilan tenaga kerja, meningkatkan sumbe daya manusia dan lain-lain.
3.    Penyedian dan bantuan usaha pertanian, perikanan, perkebunan dan kerajinan.

Pasal 23
Menfaat zakat, infak dan sedekah dalam bidang sosial budaya meliputi :
1.    Penyediaan dana banuan pelayanan terhadap Lembaga santuan anak yatim piatu, orang jompo dan penderita cacat.
2.    Penyediaan dana bantuan untuk pengembangan pendidikan dan kebudayaan.
3.   Penyediaan dana bantuan kesehatan umat (Balai Pengobatan Nadhlatul Ulama, Rumah Bersalin Nahdlatul Ulama dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama).

Pasal 24
Manfaat zakat, fitah dan sedekah dalam bidang keagamaan meliputi :
1.    Penyediaan dana bantuan pembangunan sarana ibadah.
2.    Penyediaan dana bantuan sarana pengembangan dakwah tabligh dan dakwah suku terasing atau masyarakat tertinggal.

BAB V
Tata Kerja dan Penglolaan

Pasal 25
LAZISNU dibentuk di tingkat eselon Nahdlatul Ulama mulai dari Pusat, Wilayah, Cabang, Majelis Wakil Cabang dan Ranting.

Pasal 26
Dalam melaksanakan tugasnya LAZISNU bertanggung jawab kepada Pengurus Nahdlatul Ulama setingkat.

Pasal 27
Setiap tahun LAZISNU wajib melaporkan kegiatannya kepada Pengurus sesuai tingkatan Nahdlatul Ulama setempat sebagai bahan pembinaan dan bimbingan pelaksanan zakat, infak dan sedekah.

BAB VI
Tata Cara Pelaporan

Pasal 28
LAZISNU memberikan laporan tahunan pelaksanaan tugasnya kepada Pengurus Nahdlatul Ulama sesuai tingkatan.

Pasal 29
Materi laporan meliputi semua kegiatan (Perencaan, pelaksaan dan evaluasi) yang telah dilakukan terhadap pengumpulan, pendistribusian, pendayagunaan dan berbagai kebijakan yang telah diputuskan.

BAB VII
Tata Cara Pengawasan

Pasal 30
Pengawasan terhadap pelaksanaan kerja Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama dilakukan oleh intern Dewan Pengawas di setiap tingkat.

Pasal 37
Komisi pengawas melakukan pemeriksanaan keuangan LAZISNU dapat meminta bantuan akuntan publik.
BAB IX
Pasal 38
Hal-hal yang belum jelas pada pedoman ini akan dijelaskan dalam lampiran pedoman kerja.
Inilah Susunan Pengurus NU Care – Lazisnu Ampelgading MH 2018 – 2023

Inilah Susunan Pengurus NU Care – Lazisnu Ampelgading MH 2018 – 2023


Lazisnu Ampelgading – Sidokare. Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Ampelgading telah menetapkan pengurus Unit Pengumpul Zakat NU Care – Lazisnu Kecamatan Ampelgading masa khidmat 2018-2023. Pelantikan juga telah dilaksanakan pada 03 Maret 2019, di Masjid Baiturrohman Desa Sidokare kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang.

Sesuai dengan Surat Keputusan Nomor : PMWC.04.11/01/SK/I/2019 yang ditandatangani Ketua Tanfidiyah PMWC NU kecamatan Ampelgading Bapak. Untoro, S. Sos dan Sekretaris Abdul Khalim, S.Pd. M.Pd dan Rais Syuriah KH. Abdul Qodir serta Katib Drs. Masrur inilah susunan pengurus NU Care – Lazisnu Ampelgading masa khidmat 2018-2023 sebagai berikut :

Penanggungjawab :
Pengurus MWCNU Ampelgading

Pembina :
KH. Abdul Qodir
Untoro, S. Sos

Ketua
Basri, S. Pd

Wakil Ketua
Giyarto, S. Pd

Sekretaris
Syukron Jamil, ST

Bendahara
Fandi Firmansyah, A.Md

Divisi-Divisi

Divisi Program dan Pendistribusian
Mega Kurniawan, S. Pd 
M. Khafif Tabarok

Divisi Penghimpunan dan Pengumpulan
Nurhadi, S. Pd
Muslikha

Divisi Informasi dan Teknologi (IT)


Pada Surat Keputusan yang ditandatangani Ketua Tanfidiyah dan Sekretaris pada 26 Rabiul Tsani 1440 H / 01 Februari 2019 M tersebut berlaku sampai  01 Februari 2023.