Kamis, 21 Maret 2019

Rencana Kerja LAZIS Nahdlatul Ulama


Pendahuluan Undang-undang Republik Indonesia No. 38 Tahun 1999, tentang pengelolaan zakat, infak dan sedekah telah berlaku dan diikuti dengan keputusan Menteri Agama RI No. 581, tentang pelaksanaan Penglolaan zakat, infak dan sedekah, maka bangsa Indonesia, khususnya kaum Musllimin punya kewajiban pengelolaan zakat, infak dan sedekah ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang zakat, infak dan sedekah.

Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisaasi keagamaan yang besar di Indonesia, sudah sejak lama menyelenggarakan pemungutan zakat, infak dan sedekah yang dimulai dari tingkat Ranting


TATA KERJA LAZIS NAHDLATUL ULAMA

BAB I
Nama, Kedudukan, Tugas dan Fungsi

Pasal 1
Yang mengelola zakat, infak dan sedekah ini bernama Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah ( LAZIS ) Nahdlatul Ulama

Pasal 2
LAZIS Nahdlatul Ulama adalah Pembantu Unit Pengumpul Zakat Kecamatan dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pemalang dan dibawah pembinaan dan bimbingan Unit Pengumpul Zakat Kecamatan dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pemalang.

Pasal 3
LAZIS Nahdlatul Ulama mempunyai tugas pokok mengelola dan melayani masyarakat yang menunaikan ibadah zakat, infak dan sedekah.

Pasal 4
Di dalam melaksanakan tugas pokok tersebut LAZIS Nahdlatul Ulama mempunyai fungsi :
1.   Menyelenggarakan pelayanan dan pengumpulan zakat, inafk dan sedekah bagi masyarakat.
2.  Menyalurkan hasil pengumpulan zakat, infak dan sedekah kepada masyarakat dan lembaga kemasyarakatan yang telah ditentukan oleh Unit Pengumpul Zakat Kecamatan dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pemalang.
3.    Menyimpan harta zakat, infak dan sedekah yang belum disalurkan dan menjamin keamanannya.
4.    Melaporkan hasil kerja kepada Pengurus MWC NU Ampelgading.

BAB II
Pengertian Harta, Zakat, Infak dan Sedekah

Pasal 5
Harta kekayaan adalah tumpukan sisa sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh perorangan atau lembaga perdagangan/badan hukum lainnya pada batas-batas tertentu yang belum dikonsumsikan atau dialihkan kepada pihak lain.

Pasal 6
Zakat adalah bagian tertentu dari harta tersebut pada pasal 5 yang wajib dikeluarkan dan diberikan kepada pihak-pihak lain yang telah ditentukan menurut ajaran Islam (Mustahiq). Dan apabila harta itu tidak dikeluarkan, pemilikinya menanggung dosa.

Pasal 7
Sedekah adalah mengeluarkan sebagian harta kekayaan milik peroragan atau lembaga/badan hukum diberikan kepada pihak lain yang telah ditentukan. Sedekah ada dua macam. Sedekah wajib (zakat dan infak) dan sedekah Sunanah.

Pasal 8
Infak adalah mengeluarkan sebagian dari harta kekayaan perorangan atau lembaga/badan hukum yang tidak ditentukan kadar jumlah dan batas kepemilikannya.

BAB III
Jenis Zakat dan Nishab

Pasal 9
Zakat itu ada dua jenis, yaitu zakat harta kekayaan (zakat al-maal) dan zakat fitri (zakat jiwa/diri).

Pasal 10
Zakat fitri adalah zakat bahan makanan baku sebesar 2,5 kg setara dengan 3,5 liter beras atau makanan lainnya yang didapat diganti dengan nilai harga uang yang dapat diganti dengan nilai harga uang yang wajib dikeluarkan selama bulan Ramadhan sampai batas waktu sebelum Shalat Idul Fitri bagi kaum musliminn berstatus merdeka, maupun budak, dari anak-anak sampai dewasa, yang diberikan kepada fakir miskin.

Pasal 11
Zakat harta itu terdiri dari harta Al-Nukuz (tambang), zakat Al-Tijarah (Perdagangan), zakat Al-An’am (Ternak), zakat Al-Tijarah (Pertanian) dan zakat Al-Rikaz (Barang tambang temuan).

BAB IV
Sasaran dan Manfaatnya

Pasal 17
Yang menjadi sasaran gerakan zakat, infak dan sedekah LAZIS Nahdalatul Ulama ini  adalah anggota dan simpatisan Nahdlatul Ulama serta umat Islam umumnya yang masih memerlukan pelayanan di dalam menunaikan ibadahnya.

Pasal 18
Bahwa untuk melaksanaan pelayanan zakat, infak dan sedekah tersebut, LAZISNU selalu berusaha memberikan bimbingan dan pembinaan kepada anggota dan simpatisan Nahdlatul Ulama serta umat Islam umumnya agar bergairah melaksanakan ibadah zakat, infak dan sedekah.

Pasal 19
Manfaat zakat, infak dan sedekah pada dasarya adalah sangat luas, dan dapat diringkas menjadi dua manfaat, yaitu manfaat untuk jangka pendek dan manfaat untuk jangka panjang.

Pasal 20
Manfaat zakat, infak dan sedekah jangka pendek yaitu manfaat yang bersifat konsumtif diantaranya adalah :
1.    Menyantuni kebutuhan / makan sehari kepada fakir dan miskin, seperti pemanfaatan zakat fitrah.
2.    Menyantuni beasiswa kepada siswa yang berprestasi,yang orang tua/walinya tidak mampu membiayainya.
3.    Menyantuni musafir yang kehabisan bekal dan orang-orang yang terkena kecelakaan atau musibah.

Pasal 21
Manfaat zakat, infak dan sedekah jangka panjang yaitu manfaat yang bersifat produktif fi sabilillah yang meliputi pembangunan bidang ekonomi, sosial budaya dan kegiatan keagamaan.

Pasal 22
Manfaat zakat, infak dan sedekah dalam bidang sosail ekonomi meliputi :
1.    Penyediaan bantuan modal usaha dan latihan ketrampilan tenaga kerja, meningkatkan sumber daya manusia dan lain-lain.
2.    Penyediaan dan bantuan pendirian usaha keuangan, ketrampilan tenaga kerja, meningkatkan sumbe daya manusia dan lain-lain.
3.    Penyedian dan bantuan usaha pertanian, perikanan, perkebunan dan kerajinan.

Pasal 23
Menfaat zakat, infak dan sedekah dalam bidang sosial budaya meliputi :
1.    Penyediaan dana banuan pelayanan terhadap Lembaga santuan anak yatim piatu, orang jompo dan penderita cacat.
2.    Penyediaan dana bantuan untuk pengembangan pendidikan dan kebudayaan.
3.   Penyediaan dana bantuan kesehatan umat (Balai Pengobatan Nadhlatul Ulama, Rumah Bersalin Nahdlatul Ulama dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama).

Pasal 24
Manfaat zakat, fitah dan sedekah dalam bidang keagamaan meliputi :
1.    Penyediaan dana bantuan pembangunan sarana ibadah.
2.    Penyediaan dana bantuan sarana pengembangan dakwah tabligh dan dakwah suku terasing atau masyarakat tertinggal.

BAB V
Tata Kerja dan Penglolaan

Pasal 25
LAZISNU dibentuk di tingkat eselon Nahdlatul Ulama mulai dari Pusat, Wilayah, Cabang, Majelis Wakil Cabang dan Ranting.

Pasal 26
Dalam melaksanakan tugasnya LAZISNU bertanggung jawab kepada Pengurus Nahdlatul Ulama setingkat.

Pasal 27
Setiap tahun LAZISNU wajib melaporkan kegiatannya kepada Pengurus sesuai tingkatan Nahdlatul Ulama setempat sebagai bahan pembinaan dan bimbingan pelaksanan zakat, infak dan sedekah.

BAB VI
Tata Cara Pelaporan

Pasal 28
LAZISNU memberikan laporan tahunan pelaksanaan tugasnya kepada Pengurus Nahdlatul Ulama sesuai tingkatan.

Pasal 29
Materi laporan meliputi semua kegiatan (Perencaan, pelaksaan dan evaluasi) yang telah dilakukan terhadap pengumpulan, pendistribusian, pendayagunaan dan berbagai kebijakan yang telah diputuskan.

BAB VII
Tata Cara Pengawasan

Pasal 30
Pengawasan terhadap pelaksanaan kerja Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama dilakukan oleh intern Dewan Pengawas di setiap tingkat.

Pasal 37
Komisi pengawas melakukan pemeriksanaan keuangan LAZISNU dapat meminta bantuan akuntan publik.
BAB IX
Pasal 38
Hal-hal yang belum jelas pada pedoman ini akan dijelaskan dalam lampiran pedoman kerja.

SHARE THIS

Admin :

Website resmi Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama yang dikelola oleh Pengurus NU Care - Lazisnu Kecamatan Ampelgading Kab. Pemalang. Email : nucare.lazisnuampelgading@gmail.com

1 komentar: